Online Store: 3 Fakta Biaya Kirim Menurunkan Penjualan

_eksdpjtcu2u9vzxhm1h9q

Ketika berbelanja di toko offline kamu pastinya membayar dengan harga sesuai yang tertera di label beserta pajaknya. Berbeda ketika kamu berbelanja online, ketika kamu akan checkout dan melakukan pembayaran, pernahkah kamu kaget dengan biaya-biaya tak terduga? Tentunya hal itu sangat menyebalkan, karena kamu kemudian berpikir ulang tentang pembelian itu dan mundur teratur. Ini seringkali menjadi momok menyeramkan berbelanja di online store: biaya pengiriman (atau sering juga disingkat ongkir; ongkos kirim).

Ada banyak sekali penelitian yang pernah dilakukan tentang perilaku belanja online. Bahkan ada sekitar 70% abandoned shopping cart yang ditemukan dan tingginya biaya pengiriman menjadi alasan nomor satu mengapa calon konsumen online store tidak menyelesaikan orderannya. Untuk menyiasatinya sekarang bahkan sekitar 60% pemilik online store sering ‘menghadiahi’ konsumennya dengan free ongkir, dengan berbagai kondisi, sebagai salah satu marketing tools yang ampuh bagi mereka. Tingkat konversi yang lebih tinggi bukan hanya manfaat yang diberikan melalui free ongkir, para ecommerce juga melihat adanya peningkatan order value secara keseluruhan.

Jadi mengapa si ‘free ongkir’ ini menjadi sangat menarik di mata konsumen?

  1. Biaya/ongkos kirim yang “tak terduga.” Karena nominal biaya kirim biasanya tidak muncul hingga di tahap terakhir proses checkout, konsumen sering merasa kaget dengan adanya penambahan biaya ini. Konsumen seringkali merasa seperti tertipu ketika biaya kirim tersebut seolah-olah ‘disembunyikan’ hingga ke proses paling akhir. Hal itu menyebabkan menurunnya jumlah order dalam situs, sebagai bukti bahwa konsumen tidak suka ‘dikagetkan’ dengan biaya tambahan tersebut.
  2. Konsumen tidak melihat biaya kirim sebagai bentuk pelayanan ekstra. Karena berbelanja online memang mengharuskan adanya pengiriman barang, konsumen melihat hal ini sebagai biaya dari bisnis untuk kepentingan perusahaan, dan merasa bukan merupakan tanggung jawabnya. Mengirimkan barang yang sudah dipesan adalah tanggunga jawab perusahaan, bukan konsumen. Dan karena hal inilah, konsumen sering merasa dimanfaatkan ketika harus membayar dan justru berakhir mengabaikan barang belanjaannya tersebut.

Bagaimana kamu memanfaatkan peluang ini?

Berita baiknya adalah bahwa kamu tidak harus selalu memberikan free ongkir setiap waktu, untuk dapat mengubah perilaku konsumenmu. Kamu memiliki beberapa pilihan sebagai solusi dari “dilema ongkir.”

  1. Informasi biaya kirim di awal. Kamu bisa melakukan ini dengan berbagai cara dan semua bergantung pada strategi mana yang paling efektif untuk bisnis online store-mu. Kamu bisa menampilkan biaya kirim pada setiap halaman produk atau memunculkannya melalui notifikasi pop-up ketika ada barang yang ditambahkan ke dalam keranjang. Dengan memberitahukan informasi mengenai jumlah total yang harus konsumen bayarkan bisa membuat mereka menjalani proses bertransaksi dengan nyaman tanpa harus was-was dengan biaya kirim.
  2. Membebankan biaya kirim dengan tarif flat. Lagi-lagi, ini semua dilakukan untuk mengurangi rasa was-was dan tidak nyaman konsumen. Jika kamu memberlakukan tarif pengiriman yang konsisten, sesuai dengan jenis order tertentu, konsumenmu akan selalu tahu berapa biaya yang diekspektasikan ketika akan checkout.
  3. Layanan gratis biaya kirim bersyarat. Ini bisa kamu lakukan dengan memberlakukan minimun order bagi konsumen. Misalnya, gratis biaya kirim untuk pembelian minimal Rp 500.000. Strategi ini bisa meningkatkan order value online store-mu. Tapi ingat, jangan memberi batas yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Pikirkan apakah biaya yang harus dibayarkan sepadan dengan jumlah barang dan fasilitas gratis pengiriman yang didapatkan.
  4. Pilihan yang paling menyenangkan: free ongkir, tanpa batas, tanpa syarat. Menyenangkan bagi konsumen tapi belum tentu bagi pemilik bisnis. Strategi ini bisa jadi sangat beresiko bergantung pada produk dan marginmu. Jika semuanya memungkinkan maka hal ini sangat layak kamu coba!

Uji keberhasilan

Strategi apapun yang kamu pilih, ide terbaik tetaplah mengujinya dan melihat bagaimana respon konsumen. Pertimbangkan untuk melakukan A/B test. Dengan melakukan metode ini, sebagian konsumen diberikan pilihan untuk memproses order dengan proses normal, seperti yang sudah berjalan saat ini. Separuhnya lagi, bisa kamu alihkan ke situs yang identik dengan websitemu namun dengan metode strategi biaya kirim yang sudah kamu pilih. Sebaiknya lakukan pengujian ini selama minimal beberapa minggu untuk bisa mengumpulkan data yang akurat dan signifikan, sebaiknya tentukan di awal pengujian.

Setelah masa pengujian pastikan kamu dengan seksama melakukan analisis pada hasilnya. Mungkin ini hal yang sulit terutama jika perusahaanmu tidak memiliki analis yang cukup kompeten untuk menilainya, tapi kamu bisa menggunakan bantuan melalui tools analytics yang sudah banyak tersedia. Pastikan kamu menginstallnya sebelumnya. Jika ternyata strategi yang kamu pilih belum memberikan hasil yang sesuai, jangan khawatir. Mungkin kamu bisa memberikan waktu lebih lama lagi. Atau bisa mencoba strategi online store lainnya! Perlu dipahami bahwa tak mudah menyelesaikan masalah ‘dilema ongkir’ ini dalam sekali coba. Cari tahu metode mana yang terbaik untuk bisnis dan konsumenmu. Mulai bisnis toko onlinemu sekarang juga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *