3 Kesalahan Entrepreneur dalam Digital Marketing yang Harus Dihentikan!

03082011_entrepreneur_article

Sebuah survey yang dilakukan Profoundry melaporkan bahwa hanya 8% dari perusahaan rintisan yang mempekerjakan lepas konsultan marketing atau agensi dan 65% startup tidak pernah menerima atau mempertimbangkan training tentang digital marketing secara formal. Dengan bertambahnya tekanan untuk mendapat funding/pendanaan, startup dan para entrepreneur lainnya harus mencari keseimbangan antara apa yang mungkin dilakukan untuk digital marketing dan apa yang bisa membuat investor dan venture capital tertarik memberikan pendanaan pada mereka. Berikut ini beberapa kesalahan yang sering dilakukan para entrepreneur dan bagaimana menyelesaikannya.

#1 Marketing Plan

Investor akan senang melihat kemajuan dan strategi baru untuk mengembangkan bisnis. Biasanya, startup yang didanai atau sedang mencari dana akan membuat marketing plan untuk 9-12 bulan ke depan. Perencanaan tersebut terdiri dari fase pilot tiga-bulan dan dua atau tiga fase ekspansi.

Padahal untuk periklanan online berubah dengan sangat cepat dan format iklan baru akan muncul setiap 8-12 minggu, hal itu berarti kamu membuat perencanaan tanpa mempertimbangkan format iklan yang baru. Selain itu, salah satu karakteristik dari online marketing VS offline marketing adalah semua pengujian strategi marketing online dapat diketahui hasilnya secara instan. Merencanakan sebuah rancangan selama satu tahu tanpa pernah melakukan pengujian apa-apa berarti hanya bergantung pada asumsi apa yang menurutmu terbaik. Jika kamu mampu mengestimasi tingkat konversi dan semua biaya berdasarkan pengalaman, sama halnya dengan perencanaan marketing plan.

Strategi marketing digital yang reaktif, fleksibel, dan mudah disesuaikan akan lebih efektif untuk startup yang sedang bertumbuh dengan cepat. Tentukan platform yang ingin kamu coba lebih dulu dan berapa anggaran yang akan kamu ‘bakar’ (uang yang siap kamu keluarkan tanpa ekspektasi penjualan sama sekali). Mulailah mengiklankan 3 produk atau layanan terbaik terlebih dahulu, atau produk-produk yang kamu ingin dapat margin dan/atau permintaan tertinggi. Setelah berhasil, baru tambahkan platform pelengkap dengan target marketing yang baru, setelah berhasil lakukan beberapa kampaye pada platform kedua tersebut.

#2 Budget VS Biaya

Investor (atau misal klien yang baru di dunia marketing online jika kamu agensi) ingin melihat rancangan budget untuk 3 bulan ke depan, 4 bulan ke depan, dan seterusnya. Biasanya, budget itu tidak mungkin akan benar-benar akurat. Namun ketika proposal marketing online sekalinya dilihat, budget sering kali dipertimbangkan sebagai biaya total. Tapi baiknya kamu tetap memisahkan antara budget, biaya kampanye yang sesungguhnya, dan biaya keseluruhannya termasuk fee untuk orang-orang yang melakukan kampanye.

Tentu saja ini sesuai dengan seberapa sering konsumen melakukan pembelian. Strategi ini akan ampuh jika kamu memiliki lebih dari satu pembelian setiap konsumen dalam setahun dan akan kesalahan fatal jika barang yang kamu jual adalah barang-barang semacam mesin cuci atau dapur set yang biasanya dibeli konsumen setiap 10 tahun sekali.

#3 Menggunakan Lebih dari Satu Platform Sekaligus

Ini adalah kesalahan yang sering sekali dilakukan para entrepreneur terutama yang baru terjun ke bisnis digital, hal ini pulalah yang sering dijadikan topik perdebatan. Meskipun anggaran/budgetmu berlebih untuk mensupport kampanye di berbagai platform, tapi mulailah dari skala kecil yang kemudian makin lama diperbesar.

Jika kamu langsung memulai di Facebook, AdWords, Bing, Twitter, Pinterest, dsb dalam satu waktu, kamu akan segera tahu platform mana yang tidak efektif dan bisa fokus pada social media yang elbih efektif atau terus melakukan uji coba hingga kamu bisa mengoptimalkan semua platform.

Bisnis bisa dibagi menjadi dua jenis kategori marketing digital:

  1. Push-Marketing
  2. Pull-Marketing

Media iklan biasanya akan cocok dengan keduanya. Ada beberapa platform yang baik untuk kedua strategi namun traffic utama sebuah platform hanya bisa datang dari salah satu kategori tersebut. Untuk strategi pull marketing, platform yang menjaring keyword seperti AdWords dan Bing, misalnya, adalah contohnya.

Untuk strategi push sedikit lebih berbeda dari itu. Minat, perilaku, demografis akan sangat cocok untuk profil konsumen dari strategi push marketing, jadi Facebook dan Google Display adalah contoh terbaiknya di ini. Menjadi entrepreneur harus bisa belajar dari kesalahan orang lain. Hindari hal-hal di atas dan optimalkan bisnismu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *